Tadarus di Masjid: Tradisi Ramadan di Aceh yang Perlu Dijalankan dengan Bijak

 


Ramadan di Aceh selalu disambut dengan penuh semangat dan kebersamaan. Salah satu tradisi yang masih kuat dijalankan hingga saat ini adalah tadarus Al-Qur’an di masjid-masjid. Biasanya, kegiatan ini dimulai setelah salat Tarawih dan berlangsung hingga larut malam, bahkan ada yang bertadarus dari pukul 10.00 malam hingga 1.00 dini hari.

Kegiatan ini tentu memiliki banyak nilai positif. Selain menjadi bentuk ibadah, tadarus juga memperkuat kebersamaan umat Islam dalam menjalankan Ramadan. Suara lantunan ayat suci yang bergema dari masjid-masjid di seluruh Aceh menciptakan suasana khas yang hanya bisa dirasakan di bulan penuh berkah ini.

Namun, ada satu hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan tadarus, yaitu cara membaca Al-Qur’an di masjid yang terkadang terlalu keras hingga mengganggu masyarakat sekitar. Tidak bisa dipungkiri, ada sebagian kelompok yang melantunkan ayat-ayat suci dengan suara sangat lantang, bahkan sampai terdengar seperti berteriak. Tentu niat mereka baik, yaitu menghidupkan malam Ramadan dengan bacaan Al-Qur’an. Tapi, bukankah Islam mengajarkan kita untuk selalu memperhatikan hak-hak orang lain?

Antara Ibadah dan Hak Masyarakat

Dalam Islam, membaca Al-Qur’an dengan suara yang merdu dan jelas memang dianjurkan. Namun, Rasulullah SAW juga mengingatkan agar kita tidak mengganggu orang lain dengan bacaan yang terlalu keras. Dalam sebuah hadits riwayat Abu Dawud, Rasulullah bersabda:

"Ketahuilah, setiap dari kalian sedang bermunajat kepada Tuhannya. Maka janganlah kalian menyakiti satu sama lain dengan mengeraskan bacaan kalian."

Hadits ini menjadi pengingat bahwa meskipun kita sedang beribadah, kita tetap harus menghormati orang lain yang mungkin sedang beristirahat, bekerja, atau bahkan sedang sakit.

Di beberapa daerah di Aceh, ada laporan bahwa masyarakat merasa terganggu karena suara tadarus yang terlalu keras hingga larut malam. Apalagi jika pengeras suara digunakan dengan volume tinggi, tentu ini bisa menimbulkan ketidaknyamanan bagi warga sekitar.

Solusi: Menjaga Harmoni dalam Beribadah

Tadarus di masjid adalah tradisi yang harus tetap dilestarikan. Namun, ada beberapa hal yang bisa dilakukan agar kegiatan ini tetap membawa manfaat tanpa mengganggu orang lain:

  1. Mengatur Volume Suara
    Jika tadarus menggunakan mikrofon, pengurus masjid sebaiknya menyesuaikan volumenya agar tetap terdengar di dalam masjid tanpa mengganggu lingkungan sekitar.

  2. Membaca dengan Tartil dan Tidak Berteriak
    Membaca Al-Qur’an seharusnya dilakukan dengan tartil (perlahan dan jelas) serta tidak terburu-buru atau berteriak-teriak. Selain lebih khusyuk, cara ini juga lebih nyaman didengar.

  3. Menentukan Waktu yang Tepat
    Jika tadarus dilakukan hingga larut malam, sebaiknya dipindahkan ke ruangan tertutup atau hanya menggunakan pengeras suara di dalam masjid, bukan keluar ke pemukiman warga.

  4. Sosialisasi dengan Masyarakat
    Pengurus masjid bisa berdialog dengan masyarakat sekitar untuk mencari solusi terbaik, sehingga semua pihak merasa nyaman dalam menjalankan ibadah Ramadan.

Menjaga Spirit Ramadan dengan Bijak

Ramadan adalah bulan yang penuh berkah, dan tradisi tadarus Al-Qur’an adalah bagian dari kekayaan budaya Islam di Aceh. Namun, dalam menjalankan ibadah, kita juga harus memperhatikan hak-hak sesama. Dengan sedikit kebijaksanaan, kita bisa memastikan bahwa tadarus tetap menjadi ibadah yang penuh manfaat tanpa menimbulkan gangguan bagi orang lain. Karena pada akhirnya, Islam mengajarkan keseimbangan dalam beribadah dan dalam kehidupan sosial.